Halo, Kawan Aksara,
Belakangan ini, gairah anak muda membaca buku-buku berlatar sejarah baik non fiksi atau pun sedang tinggi-tingginya ya. Pemicunya diantaranya berbagai kebijakan pemerintah. Salah satunya pernyataan pejabat kalau tidak ada kejadian pemerkosaan ketika kerusuhan 1998. Dan ada usaha mengubah buku sejarah pula. Padahal, tahun 98 belum lama berlalu ya dan saksi hidupnya pun masih banyak. Buku-buku yang membahas kejadian itu pun masih banyak kita temui.
Nah, saat pulang ke Bogor, aku sempat membongkar rak buku di perpustakaan. Ternyata, banyak juga koleksi buku-buku karya sastrawan Indonesia edisi lama yang aku punya. Kebanyakan novel berlatar belakang sejarah Indonesia dari berbagai era.
Ya, sastrawan Indonesia dulu merekam dunia sosial dan politik bangsa lewat karya-karya fiksi mereka. Biarpun puluhan tahun berlalu, isinya masih tetap relevan dengan situasi Indonesia sekarang yang tetap saja berkutat di masalah kolusi, korupsi dan nepotisme yang mendarah daging dan sulit diberantas.
Buku-buku yang kini terbilang langka dan susah dicari ternyata banyak di rakku. Kok bisa? Soalnya, zaman aku kerja dan kos di Jakarta, aku paling suka mengunjungi pameran buku alias book fair yang diadakan di Istora Senayan. Saat itu, sering sekali pameran buku. Aku paling suka berburu buku lawas yang diobral dari penerbit lama. Berasa dapat harta karun kalau dapat buku-buku karya sastrawan Indonesia ternama.
Akhirnya, tumpukan buku ini aku angkut ke Ungaran dan kubaca lagi. Tahu tidak, ternyata banyak buku-buku ini yang belum pernah kubaca, haha. Apa saja 5 Buku Jadul yang Kubaca Ulang di Januari 2026? Kita intip yuk! |
1. Amir Hamzah, Pangeran dari Seberang, Nh. Dini
Buku ini baru aku beli dari pedagang buku kesayanganku di Threads. Mbak Dian yang tinggal di Bantul Yogya ini punya banyak koleksi buku lawas dengan kondisi bagus dan harganya murah banget. Buku biografi Amir Hamzah, penyair dan sastrawan dari Sumatra ini ditulis dengan gaya fiksi yang indah oleh Nh. Dini. Buku ini terbit 2011 diterbitkan Gaya Favorit Press.
Amir banyak kelebihan yang menjadikannya disukai, ia tampan dan green flag, pintar, penyayang dan peduli pada rakyatnya. Ia jatuh cinta pada seorang gadis Solo tapi tidak direstui keluarga besarnya. Ia dijodohkan dengan gadis yang masih keluarga jauhnya. Ya, saat itu pernikahan beda suku sangat dihindari.
Karya-karya Amir yang religius dan spiritual dalam pencarian Tuhan malah diceritakan oleh Nh. Dini menjadi sajak-sajak yang tercipta gara-gara Amir patah hati kehilangan gadis Solo pujaannya, hehe. Menarik.
2. Kemarau, A.A. Navis
Aku punya buku kumpulan cerpen lengkap karya penulis dari Sumatera Barat A.A Navis yang diterbitkan KPG setebal bantal. Ternyata, aku punya salah satu novelnya yang diterbitkan Grasindo yang judulnya Kemarau. Buku ini cetakan kelima tahun 1997, dan pertama kali diterbitkan tahun 1957.
Warga kampung menolak karena mereka menunggu musim hujan saja, bahkan lebih memilih menggelar salat istisqa daripada bekerja keras menyiram sawah. Untuk apa capek-capek menyiram sawah? Pendatang yang berusia setengah baya ini pun dipandang aneh oleh masyarakat kampung.
Belum lagi, pandangan miring orang-orang kampung yang melihat Sutan menyiram sawah milik janda beranak satu. Padahal, si anak adalah sahabat yang sudah dianggapnya anak sendiri.
3. H.B Jassin, Paus Sastra Indonesia-Pamusuk Eneste
Satu lagi biografi sastrawan yang baru kubaca. Biografi H.B. Jassin yang dituliskan sastrawan Pamusuk Eneste dan diterbitkan Penerbit Djambatan yang sudah kukut ini cukup menggambarkan seorang paus sastra. Buku terbitan 1987 ini membuatku mengenal beliau lebih dalam.
H.B Jassin juga berhati-hati dalam menyikapi tuduhan plagiat suatu karya. Salah satunya ketika novel Hamka Tenggelamnya Kapal van der Wicjk dituduh plagiat yang tidak disetujui oleh H.B. Jassin karena novel Hamka masih memiliki pengalamannya sendiri.
Menariknya lagi, sosok beliau sebagai penerjemah andal. Bayangkan, ia fasih banyak bahasa. Selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, ia fasih bahasa Belanda, bahasa Perancis, bahasa Jerman, bahkan bahasa Arab! Ia menerjemahkan banyak buku berbahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Luar biasa, ya.
4. Sudah, Biar Saja-Paula Gomes
Satu buku lagi dari Penerbit Djambatan terbitan 1993. Buku karya Paula Gomes ini bercerita tentang kisah masa kecil seorang wanita berdarah Indonesia dan Belanda semasa pendudukan Jepang di Indonesia. Masa peralihan dari pemerintahan Belanda ke Pemerintahan Jepang ternyata membawa kesengsaraan tak hanya untuk pribumi tapi juga warga Indo sepertinya.
5. Pulang, Toha Mohtar
Satu lagi penerbit yang dulu berjaya yaitu Pustaka Jaya. Mereka banyak menerbitkan buku-buku karya sastrawan Indonesia. Pulang adalah salah satu roman karya penulis ternama asal Kediri ini. Nobel ini terbit pertama kali tahun 1958 dan meraih penghargaan sastra nasional dari BMKN. Buku ini pernah dimuat bersambung di majalah bahkan difilmkan lho. Buku yang kumiliki terbit tahun 2000.
Nah, itu dia 5 Buku Jadul yang Kubaca Ulang di Januari 2026 dari rak bukuku. Sebenarnya, masih banyak buku lainnya. Nanti kita lanjut ya bahas buku-buku lainnya. Terima kasih sudah baca tulisanku, semoga bermanfaat. Apa bacaanmu hari ini?







0 Komentar