Halo Kawan Aksara,

Kali ini, aku ingin mengajak kalian berkenalan dengan Kak Berto Tukan, seorang penulis yang berasal dari Larantuka, Flores Timur. Ia menjadi narasumber di acara Blogger Talk via Zoom yang diselenggarakan oleh BloggerHub. Topik Blogger Talk kali ini adalah Dari Tulisan Menjadi Buku

Baca Juga: Alberthiene Endah Penulis Biografi

Ya, sebagai blogger kadang terbersit ya keinginan ingin mempunyai buku sendiri. Nah, hal itu ternyata bukanlah hal mustahil ya. Kita lihat saat ini banyak blogger yang menjadi penulis buku. Sebut saja Trinity, Raditya Dika dan aku sendiri, hahaha. Sebelumnya, kenalan dulu ya dengan Bang Berto Tukan yang nyentik gayanya ini. 

Berto Tukan adalah seorang penulis dan peneliti lepas kelahiran Larantuka, Flores Timur dan kini tinggal di Jakarta. Ia juga konsultan, editor,  dan mengelola komunitas. Banyak ya profesinya, hehe. Bang Berto menuntut ilmu di Program Studi Jerman, Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia. Bang Berto adalah lulusan program Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. 

Berto Tukan: Dari Tulisan Sehari-hari yang Sederhana Bisa Jadi Buku

Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain Seikat Kisah Tentang Bohong (2016), Sudah Lama Tidak Bercinta, Ketika Bercinta Tidak Lama dari Penerbit Mojok (2018) dan Aku Mengenangmu Dengan Pening yang Butuh Panadol (2021). Ia juga menulis kesehariannya di blog www.bertotukan.com

Pada Zoom tadi malam, Bang Berto memberikan banyak wawasan baru untuk para peserta Blogger Talk malam itu. Menurutnya, buku adalah hasil akhir dari sebuah kerja panjang. Buku yang terbit butuh proses panjang dan latihan menulis yang terus-menerus.

Menjadi penulis yang hidup di dunia literasi Indonesia bukanlah hal yang gemerlapan. Memang, ada penulis yang hidupnya gemerlap tapi tidak banyak. Mayoritas, jika berbicara tentang penulis dan dunia literasi menurut Bang Berto adalah berbicara tentang sebuah kehidupan yang konteksnya perjuangan dan amal bakti ke masyarakat. Dengan kata lain, menjadi penulis di Indonesia masih dipandang sebagai jalan kurang populer.

Menurut Bang Berto, pandangan masyarakat Indonesia tentang penulis adalah menulis dianggap pekerjaan yang mewah, istimewa dan hanya untuk kalangan tertentu. Pemahaman ini warisan zaman dulu saat orang berilmu hanya kaum priyayi dan bangsawan. 

Baca Juga: Eklin Amtor Pendongeng demi Perdamaian

Terus, banyak orang yang punya cita-cita menjadi penulis tapi terbentur pemikiran bahwa menulis itu butuh waktu khusus, harus duduk tekun berjam-jam menulis. Keinginan itu akhirnya tertunda karena banyak pekerjaan lain yang menyita waktu. 

Padahal, kalau kita menganggap menulis itu laku hidup maka menulis hanyalah pekerjaan keseharian yang sederhana. Ya, kegiatan mwnulis adalah hal yang biasa saja seperti kegiatan lain. Kita sebenarnya bisa mencuri waktu untuk menulis. 

Hal ini diperparah lagi dengan kita yang sering terbelenggu dengan ide. Orang terbebani untuk  menulis ide-ide yang besar, berat dan rumit padahal menulis bukanlah suatu kemewahan, tapi hal sederhana. Selama kita pernah bersekolah, kita pasti pernah menulis. Menulis adalah hal dasar. 

Berto Tukan: Dari Tulisan Sehari-hari yang Sederhana Bisa Jadi Buku

Menurut penulis kelahiran Larantuka tahun 1985 ini, 
menulis tak harus menyisihkan waktu tertentu misalnya tiga jam setiap hari, tapi kita bisa menulis di ponsel saat naik kendaraan umum, atau saat sedang menunggu teman. Kita bisa mencoret-coret di notes atau menuangkan perasaan kita di caption medsos itu juga sama kok,Kita bisa menulis kapan saja, mencuri waktu disela kesibukan kita. Kita bisa meluangkan waktu untuk menulis. 

Ide pun tak harus besar atau rumit, yang harus mengguncang dunia. Tulislah keseharian kita, apa yang menarik dari sudut pandang kita, apa hal unik yang kita alami hari itu bisa kita bagikan ke pembaca. Mulailah menulis ide-ide kecil di sekitar kita. Tanpa terbebani, kita jadi menjadi mudah untuk memulai. 

Membaca adalah Kembaran Menulis

Untuk bisa menulis, membaca harus menjadi kebiasaan kita.  Membaca menjadi amunisi kita untuk menulis. Membaca manambah bahan kita untuk menulis suatu topik. Membaca juga memperkaya kosakata dalam tulisan kita. Semakin kaya kosakata, maka tulisan kita makin enak dibaca. 

Seperti menulis, membaca harus dianggap sebagai suatu kegiatan sederhana yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Dengan membaca, kita bisa mempelajari gaya menulis orang lain dan akhirnya menemukan gaya tulisan kita sendiri. Misalnya, dengan membaca buku-buku, kita mengenali gaya tulisan Seno Gumira, NH. Dini dan lainnya. Setiap penulis berbeda gaya penulisannya walaupun menulis topik yang sama. 

Meneliti untuk Menulis

Selanjutnya dalam menulis butuh riset kecil-kecilan. Sebuah karya sastra seperti Laut Bercerita karya Leila S. Chudori dan Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dalam penulisannya butuh riset tertentu. 

Menjadi seorang penulis otomatis akan menjadi periset walaupun dalam skala sederhana. Untuk menulis sesuatu, kita harus mengamati sesuatu dan juga harus mencari bahan tambahan agar tulisan semakin kaya. Mencari bahan tulisan ini kita butuh penelitian. Saat menulis, kita akan melakukan riset atau penelitian sederhana. 

Bang Berto mencontohkan jika kita akan menulis tentang kerupuk kulit. Maka, kita harus memahami seluk-beluk kerupuk yang akan kita tulis. Bisa dengan cara datang ke sentra industri kerupuk kulit langsung dan melihat langsung proses pembuatannya. Kita bisa mewawancarai pemilik usaha kerupuk. Atau kita membaca artikel-artikel tentang kerupuk di internet untuk menambah kaya tulisan kita. 

Kita harus cari bahan untuk menambah kaya tulisan kita. Maka, penulis yang baik adalah periset yang baik pula. Contoh saja Pramoedya Ananta Toer dan Romo Mangun, keduanya adalah periset andal untuk tulisannya  sehingga tulisan mereka begitu kaya dan dalam maknanya. Mereka sangat komprehensif dan mendetail dalam menulis. Ingat, membaca buku juga bagian dari penelitian untuk menulis dan menambah amunisi kita. 

Riset keseharian Penulis

Pekerjaan harian penulis adalah banyak membaca. Kita juga akan sering mengamati hal-hal sekeliling kita. Banyak hal menarik yang bisa kita amati di sekeliling kita. Kita bisa menjadi komentator dari perisitiwa dalam keseharian. Dari pengamatan tersebut, mungkin kita akan tertarik dengan suatu topik, dan mulai melakukan riset dan pengamatan khusus. Jadi, tidak harus terjebak pada hal besar.  Ingat, hal besar terlahir dari hal-hal kecil. 

Bang Berto pun menunjukkan tiga buah buku sebagai contoh buku bisa lahir dari hal sederhana. Salah satunya adalah buku Kitab Suci Para Pemberontak karya Amien Kamil. Buku ini ternyata berasal dari kumpulan tulisan harian penulis. Amien Kamal terbiasa menulis esai pendek setiap pagi dan akhirnya dikumpulkan menjadi sebuah buku. 

Bang Berto juga menunjukkan buku kumpulan puisinya yang terlahir dari kebiasaannya  menulis puisi di ponsel kala senggang lalu mempostingnya di Instagram akhirnya diterbitkan menjadi sebuah buku. Ada juga penyair Binhard Nurrohmat yang terbiasa menulis di notes FB dan banyak dikomentari orang. Dari notes itu, akhirnya terbit bukunya yang berjudul Liberal Gadungan.

Berto juga menampilkan potongan video penampilan penyair Saut Sitompul yang berdeklamasi dalam puisinya bahwa menulis tidak sulit. Cukup datang ke suatu tempat dan apa yang kita lihat, tulis. Lihat rumput terbakar, tulis. Lihat pohon hiaju nan rimbun, tulis. 

Menulis Keseharian 

Berto Tukan memang suka menulis hal-hal kecil dan sederhana di kesehariannya. Ia menganggap hal sederhana dan kecil di sekitarnya itu sangat menarik. Contohnya ya tiga buku yang dibahas di atas tadi, dari hal kecil dan sederhana bisa jadi buku. 

Catat keseharianmu, tangkaplah momen menarik setiap hari. Bermainlah dengan berbagai bentuk tulisan. Bentuk tulisan bisa bebas, cerpen, esai, puisi apa saja. Kalau sehari menulis lima halaman mungkin berat. Tapi, menulis dua-tiga paragraf mudah dan tidak butuh waktu lama. 

Jika kita bisa memotret dengan ponsel kita berkali-kali setiap hari, kenapa tidak bisa mencoba menulis satu tulisan pendek setiap hari? Cukup beberapa paragraf saja setiap hari! Yang kita butuhkan adalah konsistensi agar tulisan sehari-hari kita bisa terkumpul dan akhirnya menjadi buku.

Konsistensi Penulis

Menurut Berto, ia tidak ingin membatasi diri dengan topik tertentu atau bentuk tulisan tertentu. Ia masih ingin menulis apa saja yang menarik baginya saat itu. Kadang ia menulis topik politik, pendidikan,  lingkungan. Kadang ia menulis puisi, cerpen, terkadang dalam bentuk artikel dan esai. Ia akan menulis apa saja yang ia inginkan. Memang bagi sebagian orang, hal ini tidak jelas dan serabutan, tapi menurutnya tak apa untuk terus menggali kemampuan dan menantang diri sendiri. 

Ia juga setuju kalau ada orang yang sejak awal ingin jadi blogger khusus kuliner misalnya. Dia bakal dikenal sebagai food blogger. Tak apa. Setiap orang punya cara sendiri untuk mendapatkan jati dirinya. Yang penting konsisten saja sebagai penulis. Misalnya jadi blogger konsisten menulis satu artikel per minggu. Ingat-ingatlah, bakal ada pembaca yang menunggu artikelmu tayang di blog. Maka, teruslah menulis. 

Di akhir Blogger Talk, Bang Berto Tukan mengaku senang jika makin banyak orang Indonesia yang jadi penulis dengan berbagai genre. Ia berharap semoga para calon penulis bisa menemukan topik menarik untuk ditulis dan cara yang tepat untuk membukukan suatu hal.