Halo Kawan Aksara,
Happy banget pas lagi di Bogor, aku bisa mengikuti event Pekan Sastra Jakarta di PDS HB Jassin bulan Agustus lalu. Kegiatan ini diadakan oleh Perpustakaan Jakarta, Dinas Pendidikan dan Arsip DKI Jakarta dan
Saat itu, aku mendapat info tentang festival literasi yang berlangsung satu minggu di IG Perpustakaan Jakarta. Ternyata, aku bisa datang hari Sabtu 15 Agustus jadilah aku mendaftar beberapa acara di hari itu.
Salah satunya, acara talkshow bertajuk Pangeran dari Timur, Gajah dan Ikan: Siasat Sastra Merawat Ingatan. Acara dimana tiga penulis keren berbagi cerita tentang novel fiksi sejarah yang mereka tulis. Kebetulan, aku sedang proses mengedit novel sejarahku. Jadi tertarik banget untuk hadir.
Ketiga penulis ini adalah Mas Iksaka Banu, Pak Kurnia Effendi dan Sasti Gotama yang sedang naik daun dengan novel-novelnya yang bertema perempuan.
Orang-orang Kecil pun Punya Jasa dalam Perjuangan
Beberapa tahun lalu, ternyata Pak KEF dan Iksaka Banu menerbitkan novel berlatar belakang sejarah berjudul Pangeran dari Timur yang bukunya setebal bantal. Mereka berdua sharing tentang proses penulisannya.
Iksaka Banu lebih suka menulis tentang orang-orang biasa di novel sejarah yang ditulisnya misalnya kisah petani, budak, ibu rumah tangga dll. Jadi, jangan hanya orang ternama saja yang diceritakan dan jadi tokoh novelmu. Orang-orang biasa pun berjuang merebut kemerdekaan, mereka semua punya kisah perjuangan sendiri di zaman itu
Sasti Gotama yang menulis buku Ingatan Ikan-Ikan dengan cemerlang mengaku ingin memberikan suara untuk para perempuan yang tertindas, yang dibungkam di dalam novel-novelnya.
Ya, kita tahu betapa selektifnya buku sejarah, yang tertulis hanyalah sosok yang mau pemerintah letakkan di sana. Kebanyakan, hanya cerita orang-orang besar saja di buku sejarah. Padahal, orang-orang kecil pun punya peran dalam perjuangan Indonesia.
Mengapa Harus Menulis Fiksi Sejarah?
Menurut ketiga penulis, banyak hal yang bisa dicapai oleh karya fiksi yang tidak terjangkau dalam buku non fiksi. Ya, buku non fiksi tidak bisa seterang-benderang novel karena sejak dulu banyak sensor pada buku di Indonesia.
Iksaka juga mengingatkan, kalau kita membaca novel yang berisi cerita para nyai tahun 1920an sebenarnya hal itu adalah teriakan para orang Belanda liberal yang ingin menyuarakan suara budak dan jongos agar mendapatkan keadilan. Mereka ingin menyuarakan suara rakyat kecil lewat novel fiksi.
Karena itu, para penulis zaman dulu terkadang memasukkan cerita-cerita lokal, dongeng pribumi ke tulisan mereka. Hal ini membuat orang tertarik mempelajari sejarah Hindia Belanda dan kolonialisme.
Sejak dulu, founding father Indonesia selalu memposisikan Belanda sangat jahat dan hal itu perlu agar nasionalisme rakyat tumbuh, tapi setelah merdeka ternyata hal ini terus didengungkan Nasionalisme diperalat untuk kepentingan pemerintah, seperti membuat film Janur Kuning, Pemberontakan G30S, dll.
Nah, itulah peran penting fiksi sejarah, para pembaca muda bisa berpikir kritis benar nggak sih cerita propaganda hasil karya pemerintah? Semangat menyuarakan kebenaran itulah mengapa Iksaka dan Pak KEF tergerak untuk bercerita tentang kisah Raden Saleh yang lebih manusiawi.
Menurut Sasti, kelebihan fiksi sejarah dibandingkan buku pelajaran sejarah atau buku sejarah adalah fiksi sejarah lebih berkesan di hati. Karena apa yang kita ingat itu lebih ke hal yang emosional.
Berbeda kalalau hal seperti tanggal perang, kapan pahlawan wafat, dll di dalam buku sejarah, susah diingat para pembaca.
Tapi kalau sisi emosional dikawinkan dengan sejarah, maka pembaca akan lebih memahami sejarah. Seperti peristiwa 98, pembaca akan lebih dekat jika diceritakan dengan sisi emosional yang terdapat dalam fiksi sejarah. Contohnya ya novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, pembaca jadi lebih memahami perjuangan pahlawan Reformasi 98.
Bagaimana Iksaka dan Pak KEF Menulis Raden Saleh?
Saat itu, tak ada orang yang menyangka ada seorang Indonesia yang cerdas hingga mendapat beasiswa ke Belanda.
Iksaka dan Pak KEF pun menulis tentang sisi kehidupan Raden Saleh yang tidak sempurna. Ia sering dianggap oportunis dan punya pandangan terbelah tentang Indonesia merdeka.
Akhirnya, kedua penulis mengarang bebas bagaimana Raden Saleh bersikap, bagaimana ia sedih, berpikir dll. Mereka dapatkan bahan tulisan dari buku-buku sejarahvyang jumlahnya terbatas.
Mereka membuat para tokohnya tidak ada yang bahagia. Kedua penulis menghancurkan tokoh-tokohnya.
Saat itu, Pak KEF frustrasi karena mereka kehabisan sumber bacaan tentang Raden Saleh. maka mereka mulai mencari alternatif lain. Tak disangka, Pak KEF mendapat beasiswa ke Belanda ia bisa mencari bahan lebih banyak tentang Raden Saleh.
Pak KEF pun melakukan napak tilas ke Perancis untuk merekonstruksi kegiatan sehari-hari Raden Saleh mencari inspirasi di tepi Kanal Denhaag saat tugas belajar.
Pendekatan Masing-masing Penulis di Novel Fiksinya
Sasti berbagi pengalaman menuliskan Ingatan Ikan, menurutnya ceritanya adalah metafora itu sendiri.
Proses pencucian ingatan dia metaforakan dengan laundry. Ingat, sejarah itu ditentukan pemerintah, yang tidak sesuai bagi mereka akan dihapuskan. itulah mengapa dia menulis cerita tentang ingatan, bagaimana ingatan itu berusaha dihapuskan.
Untuk itu, dia banyak membaca banyak bahan tentang ingatan manusia dan fiksi ilmiah. Ia baca juga tentang penyakit mental PTSD yang banyak dialami penyintas 1998.
Iksaka memiliki tiga metode dalam menuliskan naskah fiksi sejarahnya.
1. Dramatisasi Biografi
Penulis bisa mendramatisir situasi tapi akhir cerita harus sesuai biografi tokoh yang ditulis, harus sesuai kenyataan.
2. Dekonstruksi
Penulis bisa mengubah sejarah. seperti film Quentin Tarantino tentang Hitler.
3. Infiltrasi
Lewat metode ini, Pak KEF dan Iksaka menulis cerita sejarah dengan memasukkan tokoh-tokoh fiktif yang bertujuan untuk menggerakkan cerita. jadi jalan cerita bisa hanya imajinasi penulis, tapi sejarahnya harus akurat.
Metode Pak KEF
Ia dan iksaka suka film Mimpi-Mimpi Einstein. Ia pun menulis dengan metode peendekatan seperti film itu yaitu deep POV. jadi bagaimana pembaca merasakan seperti sedang berada di dalam buku.
Bagaimana Riset Masing-masing Penulis?
Menurut Iksaka, penulis fiksi sejarah harus riset untuk naskahnya agar apa yang ia tulis sesuai dengan fakta. Misalnya, saat ia menulis rumah makan Soto Kudus dalam adalah satu novelnya, ada pembaca yang protes karena zaman itu belum ada rumah makan, adanya angkringan soto.
Menurut Penulis Teh dan Pengkhianat ini, proses paling lama dalam menulis fiksi sejarah adalah riset. Mulai dari gagasan lalu menjadi premis dikembangkan jadi sinopsis atau kerangka secara garis besar. Lalu, ia riset. Nah, sambil riset, ia menuliskan naskahnya.
Jangan sampai menulis tanpa sinopsis atau premis. Setidaknya, kamu harus sudah tahu akhir kehidupan tiap tokohmu.
Proses riset ini lama dan berdarah-darah. Ia mengecek ratusan surat Raden Saleh dan rasanya mau menangis pas mengecek, karena tulisannya bagus banget sampai tidak terbaca dan semuanya berbahasa Belanda.
Untungnya ia menemukan seorang Belanda di Yahoo group yang menawarkan bantuan untuk menerjemahkan,
Berbagai data tentang Raden Saleh diberikan ke Iksaka tahun 2006. Sedangkan mereka berdua mulai menulis tahun 1999. Novelnya selesai ditulis tahun 2019. Pak KEF bahkan berkunjung ke Belanda untuk memeriksa semua datanya.
Menurut penulis buku Semua Tentang Hindia ini, bagaimanapun seriusnya risetnya bisa tetap ada salah jadi ya jika ada kritik terima saja dan minta maaf jika ada kesalahan riset. Bisa diperbaiki pas cetak ulang. Yang penting, kulonuwun dan minta izin pada keluarga tokoh yang diceritakan. Kalau Pak KEF selalu mencantumkan disclaimer di bukunya.
Bagaimana menyiasati fokus pembaca yang mulai berkurang drastis sedangkan fiksi sejarah biasanya setebal bantal?
Menurut Pak KEF, saat covid, buku Pangeran dari Timur nyaris diobral padahal proses nenulisnya berat dan butuh waktu 20 tahun, akhirnya tahun 2020an Wien Muldian mengusulkan membuat klub buku Pangeran dari Timur dan membaca serta membahasnya sama-sama. Ivan Lanin bahkan ikut serta membacanya dengan cara unik.
Kalau Sasti, berusaha mengatasi kejenuhan pembaca dengan menulis kisah sejarah dibalut percintaan agar lebih menarik pembaca muda, Metode sugar coating agar kisah pahit sejarah bisa lebih manis dinikmati pembaca dan lebih relate dengan kehidupan mereka.
Menulis adalah Perjuangan
Sasti merasakan betapa ia merasa tak berdaya menolong korban KDRT ketika terjadi di sekitarnya. Jadi, ia tuliskan saja kisahnya agar perempuan merasa relate, agar kisahnya didengarkan. Ia menyadari tak bisa berjuang sendiri, harus bersama-sama dengan banyak pihak. Lewat tulisannya, ia terhubung dengan banyak orang LSM yang membantu penyintas. Jadi, ini adalah sebuah kerja kolektif.




0 Komentar