Halo Kawan Aksara, Selamat Tahun Baru! 

Apa resolusimu yang berkaitan dengan literasi tahun ini? Kalau aku tahun ini berencana ingin menerbitkan buku solo dan menyelesaikan novelku di aplikasi KBM. Tahun lalu, aku ikut menulis di KBM tapi hanya bertahan hingga Bab 5. Hiks. Tahun ini harus punya novel yang tuntas di KBM, aamiin. Semoga diberikan kesehatan dan ide melimpah, ya. Harus menguatkan tekad agar resolusi tahun ini tercapai. Jangan kasih kendor!

Belajar Tentang Kegigihan dan Keuletan Berkarya dari NH. Dini
Belajar Tentang Kegigihan dan Semangat Berkarya dari Eyang NH. Dini
 

Nah, aku sempat menanyakan tentang apa resolusi 2024 teman-teman member Klub Ruang Aksara di WAG. Resolusinya keren-keren lho! Resolusi dari Mas Ardie yang tinggal di Ungaran adalah ingin jadi suami idaman istri, saban hari menulis di banyak media online yang hasilin duit, Hehe. Terus, ada resolusi dari Bening Pertiwi ingin rutin lagi mengisi blog. Sedangkan resolusi dari Rosdiana Amalia adalah ingin mencoba pede untuk ikut ajang menulis yang besar seperti GLN. Ada pula resolusi dari Mbak Nurul Safitri yang ingin baca buku lebih banyak. Semoga tercapai segala resolusinya tahun ini ya gengs, aamiin!
Tahu tidak, kalau tahun 2024 ini adalah tahun kabisat atau tahun yang mengalami penambahan satu hari dengan tujuan menyesuaikan dengan tanggalan astronomi. Itu berarti, akan ada tanggal 29 Februari 2024. Jadi, orang yang ultahnya 29 Februari hanya bisa dirayakan setiap empat tahun sekali saat adanya tahun kabisat.

Salah satu penulis ternama yang memiliki ulang tahun tanggal 29 Februari adalah Almarhumah Eyang NH. Dini yang lahir dengan nama Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin. NH Dini adalah penulis produktif asal Semarang. Tahun-tahun sebelum wafatnya beliau di tahun 2018, Alhamdulillah aku beberapa kali berkesempatan bertemu dan bercengkrama dengan beliau. 

Belajar Tentang Kegigihan dan Keuletan Berkarya dari NH. Dini
Mengenang Keindahan Hidup NH Dini

Aku dan teman-teman juga sempat diundang menghadiri beberapa acara Eyang diantaranya Sedekah Budaya Semarang tahun 2016 dan syukuran ulang tahun beliau yang ke-80 pada tahun 2018. Kami juga sempat menghadiri acara bedah buku beliau yang terakhir berjudul Gunung Ungaran di Gedung Soegondo FIB UGM Yogya. Tak disangka, beliau meninggalkan kita semua pada Selasa 04 Desember 2018 karena kecelakaan lalu-lintas. Aku dan teman-teman melayat jenazah di Wisma Harapan Asri, Banyumanik. 

Dari Pengalaman Hidup Menjadi Buku

Pengalaman NH Dini sangatlah banyak. Ia penulis, pernah menjadi pramugari Garuda dan istri diplomat asing yang hidup berpindah-pindah di berbagai negara. Berbagai pengalaman batin inilah yang ia ceritakan dalam buku-bukunya. 

Buku-bukunya yang terbit tak terhitung dan laris manis di Indonesia. Sebut saja diantaranya Tirai Menurun, Pada Sebuah Kapal dan Namaku Hiroko. Buku-buku yang ditulisnya kebanyakan tokoh utamanya adalah perempuan yang mandiri dan sabar dalam mengarungi kehidupan. tak heran, penghargaan di bidang literasi tingkat nasional dan internasional tak terhitung banyaknya ya beliau raih. 

Beliau menjadi penulis sejak di bangku sekolah menengah. Bahkan, ia rutin menulis prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang.  


Belajar Tentang Kegigihan dan Keuletan Berkarya dari NH. Dini
Pertama kali bertemu

Belajar tentang Kegigihan dari NH Dini

Ngobrolin tentang karya, sungguh kita harus harus mencontoh kegigihan dan ketekunan  seorang NH Dini. Bahkan hingga penghujung usianya, Eyang tetap produktif menulis. Bahkan, ia masih menulis dan menerbitkan buku ketika usianya menginjak 82 tahun yaitu buku Gunung Ungaran. 

Eyang tetap energik dan aktif mengikuti berbagai kegiatan literasi. Mulai dari menghadiri acara bedah buku-bukunya di berbagai kampus dan sekolah, menghadiri undangan acara sastradatang ke Pameran Buku Internasional di Frankfurt Jerman, hingga membantu mahasiswa yang meneliti bukunya untuk skripsi dan tesis. Sungguh luar biasa semangat beliau.

Tak heran, pikirannya tetap tajam dan asyik diajak berdiskusi tentang berbagai hal. Badannya pun sehat karena aktif beraktivitas. Walaupun tinggal berjauhan, hubungannya dengan kedua putra-putrinya Padang dan Lintang tetap terjalin mesra hingga akhir hayat beliau.

Perjalanan hidup beliau yang berwarna mulai dari kehidupan masa kecil, lulus sekolah dan menjadi pramugari hingga pernikahan dengan Diplomat Perancis Yves Coffin dan memiliki dua anak, lalu bercerai dan menderita penyakit kronis, semuanya diceritakan mendetail di buku-buku seri Cerita Kenangan.


Pengalaman awal karirnya sebagai penulis ini ia tuangkan di bukunya yang berjudul Sekayu yang diterbitkan Penerbit Dunia Pustaka Jaya tahun 1981.


Bersyukur banget, aku bisa mendapatkan buku Sekayu yang merupakan bagian dari seri Cerita Kenangan Eyang melalui penjual buku online. Seri buku Cerita kenangan adalah serial kisah kehidupan atau biografi NH Dini sejak kecil hingga tua. Banyak hikmah yang bisa kita renungkan dari buku-bukunya. Kita juga jadi lebih mengenal sosoknya yang istimewa.

Belajar Tentang Kegigihan dan Keuletan Berkarya dari NH. Dini
Peluncuran buku Gunung Ungaran tahun 2018

Rajin Menulis Jurnal

Seperti anak muda masa kini, Eyang NH Dini rajin menulis jurnal atau mencatat segala peristiwa di dalam bukunya. Buku catatan ini yang menjadi sumber inspirasi dan ide-idenya untuk menulis buku-bukunya. Menurut Eyang, Segala hal di sekelilingnya bisa menjadi sumber cerita dan sumber inspirasi. Ketajaman pikiran beliau pun tidak diragukan lagi, walau sudah sepuh. Ingatan filmis yang selalu beliau syukur sebagai anugerah dari Tuhan, sangat membantunya menulis buku terutama seri cerita kenangan lebih detail.

"Penulis harus jeli dan peka terhadap sekelilingnya," begitu selalu beliau berkata.

Syukuran 80 Tahun Eyang NH Dini

Penulis yang tekun dan semangat 
Menulis Setiap Hari

Hal lain yang harus kita contoh dari Eyang adalah kedisiplinan beliau dalam berkarya. Beliau menjalani kehidupan sehari-hari dengan teratur. Tak heran, ia tetap produktif berkarya di usia senja. Eyang NH. Dini punya jadwal yang teratur dan disiplin. Jadwal makan dan tidur selalu pada waktu yang sama.
Setiap pagi kegiatan Eyang adalah berkebun dan senam ringan, lalu dilanjutkan dengan menulis dari pukul sembilan hingga pukul 12 siang. Sore harinya, Eyang biasanya berkebun lagi dan bercengkrama dengan penghuni Harapan Asri. Malamnya, beliau kembali menulis hingga tengah malam. Ya ampun, jadi malu hati deh dengan aku yang jadwal menulisnya masih berantakan. Bagaimana mungkin bisa menulis sekaliber beliau?
Ada quote tak ternilai dari Eyang yang dikutip dari buku Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang,
      
       Dalam mengarang saya tidak pernah tergesa-gesa. Saya anggap pekerjaan mengarang adalah tugas yang santai, yang harus dikerjakan dengan senang hati. Kalau saya menulisnya dengan terburu-buru, berarti dengan hati yang kesal, maka dapat dipastikan bahwa si pembaca pun akan merasakannya.

Semoga tahun 2024 ini, kita bisa mengikuti jejak beliau dalam berkarya ya, mencontoh semangat dan kegigihan NH Dini dalam berkarya. Al Fatihah untuk Eyang NH. Dini.